Reaktivasi Kegiatan Monitoring

Dengan dibukanya kembali beberapa kawasan konservasi termasuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak secara terbatas, kegiatan penelitian dan monitoring owa jawa direncanakan akan kembali kami aktifkan di bulan Agustus ini.

menghadapi situasi yang baru dan untuk mencegah segala resiko kesehatan, beberapa persiapkan kami lakukan, termasuk di dalamnya sosialisasi mengenai protokol kesehatan diri dan perlengkapan selama kegiatan di lapangan bagi seluruh anggota tim, dan sejumlah peraturan akan diterapkan termasuk pengecekan suhu tubuh, menjaga kebersihan dan jarak, menggunakan masker serta mendesinfeksi seluruh peralatan sesuai dengan panduan IUCN SSC Primate Specialist Group.

Kami juga melakukan simulasi dengan protokol terbaru yang kami buat dan untuk sementara kegiatan magang maupun penelitian mahasiswa masih kami tangguhkan untuk meminimalisir segala resiko. Begitu juga kegiatan pendidikan konservasi dan pelatihan bagi masyarakat.

Semoga kegiatan dapat berjalan lancar dan terima kasih kepada Taman Nasional Gunung Halimun Salak atas dukungan yang diberikan.

Protokol di hutan Owahalimun (A2)

Berbagi Informasi dan Perlengkapan Kesehatan bagi warga Kampung Citalahab Sentral

Kali ini kami melakukan kegiatan penyadartahuan mengenai protokol kesehatan sehari-hari untuk mencegah penyebaran Covid19 dan kami membagikan 120 masker, sabun cuci tangan dan poster bagi semua warga kampung Citalahab Sentral, tempat kami berkegiatan.

Tak lupa kami juga berkunjung ke Resort Cikaniki untuk membagikan perlengkapan bagi para petugas taman nasional dan bertamu ke mushola serta pesantren untuk mendistribusikan protokol dalam menjaga kebersihan di mushola.

Continue reading “Berbagi Informasi dan Perlengkapan Kesehatan bagi warga Kampung Citalahab Sentral”

Bioblitz 2020

A Bioblitz well spent!

This is our third Bioblitz that we have organized and supported by National Geographic Society under Explorer Led Youth Outreach Program Grant.

This year, we collaborated with five student organizations from different faculties in IPB University (HIMAKOVA, Himpro Satli, Himabio, Tree Grower Community and UKF) to run this event on campus. Why we chose campus as the venue? It was because campus usually has green spaces that use by urban wildlife as habitat, and it is important to provide baseline data for campus officials to preserve the biodiversity and consider a sustain development. Moreover, sometimes we take it for granted for common species we found everyday in life but in fact we share spaces with them and it matters to dig deeper and share stories with others to be care.

After several meeting and preparations, we held the event in Faculty of Forestry. In total, 80 participants joined this event and we even had 8 yo boy (accompanied by his parent of course) as our youngest participants! And we were so excited this event could reach participants from different area like from Jakarta, Bekasi and Bandung. They were curious about what is Bioblitz actually and how they can run similar event in their places.

Finally, we kicked off our 3rd Bioblitz event by presented talks from three experts: Arief Hamidi from Global Tree Campaign, Fransisca Noni from Seabird Indonesia and Andi N. Cahyana from Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP). They shared about conservation efforts for neglected species and the importance of public support to report any illegal wildlife trade activity. A lot of questions rose from audience mostly about wildlife trade and we were glad one of participant shared his perspective as online marketplace staff and how his platform activity take a part to tackle this issue. Bravo!

We continue with a short workshop about inaturalist using by our project leader: Rahayu Oktaviani. She shared about how to use iNaturalist through website and app, and also why it is important to involve public as part of science and conservation.

 

Continue reading “Bioblitz 2020”

Pengalaman dan Kenangan Bersama Desa Kabut serta Owa Jawa di Hutan (Bag. 3)

Oleh: Muhammad Farhan Adyn

Aktivitasku ga cuma penkon dan pengamatan aja lho. Aku mengikuti semua kegiatan JGRCP yang diadakan sewaktu aku magang di sini. Salah duanya ada Bioblitz dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pemandu Lokal.

Bioblitz ini merupakan kegiatan citizen scientist yang mengajak pesertanya untuk mengeksplorasi, mengidentifikasi, dan mencatat keanekaragaman hayati di sekitar yang diadakan tiap tahun. Kali ini, Bioblitz 2019 mengajak siswa-siswi yang berasal dari SDN Malasari 3 dan SDN Rimba Kencana untuk berpartisipasi agar menumbuhkan rasa ingin tahu dan mengenal kehati di sekitar habitat owa jawa. Bersama dengan tim JGRCP dan relawan yang lain, kami berpartisipasi sebagai panitia dan berangkat menuju kampung Citalahab. Pas sebentar lagi tiba, ternyata di kampung Citalahab dan sekitarnya diguncangkan oleh gempa bumi tipe swarm. Walaupun sebelumnya kami pernah merasakannya di hutan sewaktu pengamatan beberapa hari sebelumnya. Guncangan itu pun cukup menggoyangkan pohon rasamala yang besar nan kokoh, bahkan tim terpaksa pulang lebih awal demi keselamatan sebab gempa tersebut. Saat kami tiba, semua warga pun sedang dievakuasi dan tinggal di tenda untuk sementara waktu. Akhirnya, kegiatan pun tidak bisa berjalan sesuai. Sebagai gantinya, kami yang awalnya menjadi panitia pun merangkap sebagai peserta dan tidak melunturkan semangat juga keseruannya, hahaha. Seperti pepatah bilang: dari kita, oleh kita, untuk dunia!

Gambar 1. Peserta sekaligus panitia Bioblitz 2019 yang tetap seru mengenal kawan baru

Continue reading “Pengalaman dan Kenangan Bersama Desa Kabut serta Owa Jawa di Hutan (Bag. 3)”

Pengalaman dan Kenangan Bersama Desa Kabut serta Owa Jawa di Hutan (Bag. 2)

Oleh: Muhammad Farhan Adyn

Lalu, pengamatan owa jawa di sana kek gimana? Dua kata untuk menggambarkannya: sangat seruuu!!! Meskipun mengamati owa jawa bukan kali pertama bagiku, tetapi yang ini berbeda dan belum pernah ku lakukan. Di sini bukan hanya masuk hutan dan mencarinya begitu saja, tapi ketika udah ketemu sama owa jawanya lantas dengan sigap dan penuh konsentrasi kita ikuti kemana pun mereka pergi seharian penuh hingga kembali ke pohon tidurnya atau sampe kita kehilangan jejak mereka… yang ini ga kita harapin sih, but it’s how nature works that we can’t control.

Kalo berhasil kita ikutin sampe ke pohon tidurnya, maka esok paginya kita akan menunggu di pohon tidur sebelum mereka terbangun atau beraktivitas kembali… yaps, abis subuh kita berangkat. Oiya, selama kegiatan pengamatan kami juga dibantu oleh asisten lapang yaitu Kang Sahri, Kang Isra, dan Kang Iyan. Ketiganya adalah warga lokal yang sangat terlatih dan berpengalaman. Aku banyak belajar sama mereka, terutama Kang Sahri yang sering menemani dan bantuin aku mengambil data yang aku butuhkan.

Gambar 1. Gak pernah jenuh kalo bareng sama mereka mah, hahaha

Continue reading “Pengalaman dan Kenangan Bersama Desa Kabut serta Owa Jawa di Hutan (Bag. 2)”

Pengalaman dan Kenangan Bersama Desa Kabut serta Owa Jawa di Hutan (Bag. 1)

Oleh: Muhammad Farhan Adyn

Hai, perkenalkan namaku Farhan! Aku adalah mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta. Yups! Sebagai anak biologi tentu dong kita mempelajari banyak makhluk hidup secara luar-dalam, dan gak jarang juga dikaitkan dengan interaksinya terhadap lingkungan sekitar. Namun, dari sekian banyak subjek dan luasnya lingkup bidang disiplin ini, pada akhirnya aku harus memilih apakah yang akan “menolongku” untuk menyelesaikan studi. Kemudian, setelah diputuskan, aku memilih bidang bioekologi primata sebagai penolongku, alias mereka lah yang akan menjadi topik penilitianku nanti. Namun, sebagai prasyarat untuk melakukan penelitian skripsi, kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dulu adalah menyelesaikan kegiatan magang atau praktek kerja lapangan (PKL). Dan pastinya aku ingin melaksanakan PKL yang juga berkaitan dengan primata sebagai pembekalan diri untuk skripsi nanti, hehehe. Jadi, aku mencari beberapa informasi hingga akhirnya dapat kesempatan untuk PKL di salah satu riset penelitian Owa jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, yaitu Javan Gibbon Research Conservation Project (JGRCP).

Gambar 1. Salam kenal yah semua

Continue reading “Pengalaman dan Kenangan Bersama Desa Kabut serta Owa Jawa di Hutan (Bag. 1)”

Peringatan Hari Owa International

Minggu, 27 Oktober 2019

oleh Fauzia Yudanti (Project Support Officer)

Hari itu aku menjadi person in charge (PIC) dari Owahalimun untuk mengadakan sebuah kegiatan penyadartahuan atau pengenalan mengenai primata dalam memperingati International Gibbon Day. Kegiatan ini dilakukan di Taman Ekspresi, Sempur, Bogor selama satu hari. Target peserta yang kami rencanakan untuk kegiatan ini adalah anak-anak dengan rentang usia 6-12 tahun sebanyak 50 orang. Kami membuat acara ini untuk mengenalkan satwa liar khususnya mengenai primata dan owa jawa kepada anak-anak dan juga masyarakat umum melalui pameran foto-foto yang berkaitan dengan konservasi owa jawa, story telling mengenai cerita Luna si Lutung Jawa, mini games yang berbentuk ular tangga owa, dan juga pembuatan wayang owa dari kertas. Kegiatan ini juga dibantu oleh beberapa volunteer mahasiswa IPB. Masing-masing dari mereka sangat membantu dalam banyak hal dari sebelum acara hingga acara selesai. Ada yang mendesain banner, membuat properti untuk story telling, menyiapkan properti untuk pameran foto, dan masih banyak hal lainnya.

Continue reading “Peringatan Hari Owa International”

Javan Gibbon Experience

From July 20th to July 23rd, my classmates and I were welcomed to the Javan Gibbon Research and Conservation Project to learn about the program’s mission, explore the area, and get to know the individuals involved in the organization. Shortly after our arrival, we visited a villager’s home where we played drums and the traditional instrument, the Angklung. Although we were severely lacking in the musical talent department, we throughly enjoyed getting to know the tradition and trying it ourselves.  After our musical experience, we visited the Javan Research Research and Conservation Project where we learned about the research done at the site. Having very little background in primates, I was very interested to learn about the researchers’ discoveries into the gibbons’ behavior and social structure. They showed us a video that overviewed the program, which I thought was a great way to not only demonstrate the program, but also to get us excited for the next day’s adventure.

Our second day, we joined guides and researchers to spend the morning with the gibbons. The trek up the mountain side once we left the trail was even more treacherous than I had imagined but was definitely worth the view. I was captivated by the gibbons’ cute faces that showed both intelligence and complexity. We learned that the apes have tight knit social structure, that almost all of their energy is channeled into eating and traveling between food sources, they do not duet like other primates, they almost never touch ground, and although they charge each other at the boundary of territories, they usually do not come in contact with each other. I felt extremely honored to hear the firsthand stories about the long and hard days the researchers had spent with the apes that were necessary to gather this information. My exhaustion by the end of the morning was a testament to the dedication they have for these animals to decide to spend all day, every day, doing this work.

In addition to our trek out into the forest to watch the gibbons, we also hiked, visited a beautiful waterfall, and did conservation education at a nearby village. The experience was a perfect blend of adventure, learning, and hands on activities. I am so grateful for our inclusion those days and for the work the researchers are doing to help promote and provide information on what is now one of my favorite primates, the Javan Gibbon.

#PrimateTalk Juli 2018

Pada tanggal 12 Juli 2018 lalu, untuk pertama kalinya kami mengadakan sebuah diskusi santai yang kami sebut dengan “Primate Talk“. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama dengan Tambora Muda, sebuah organisasi yang diinisiasi oleh para konservasionis muda Indonesia sebagai wadah memperkaya ilmu pengetahuan dan juga memperluas jaringan; bertempat di Kantor Forum Harimau Kita, Bogor.

Kami beruntung untuk kegiatan #Primatetalk perdana ini, Dr. Erin Riley, seorang ahli primata yang mengajar di San Diego State University, Amerika Serikat  berkenan berbagi hasil kegiatan penelitiannya mengenai dampak aktivitas manusia terhadap pola jelajah Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian Dr. Erin Riley dan kawan-kawan menujukkan bahwa adanya akses jalan yang melintasi habitat Macaca maura di dalam kawasan telah mengakibatkan perubahan perilaku dan juga pola pergerakan monyet endemik Sulawesi ini.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 11.04.46 AM

IMG_20180712_153242

Pengamatan dilakukan terhadap kelompok B, satu kelompok Macaca maura yang telah terhabituasi dengan baik, dimana wilayah jelajah kelompok ini dilewati oleh akses jalan lintas kabupaten yang cukup padat sehingga keberadaan monyet dengan status terancam ini disadari oleh pengguna jalan, akibatnya banyak pengguna jalan yang berhenti untuk mengambil foto dan memberikan makan. Dimana tanpa disadari, pemberian makanan bukan alami terhadap satwa liar dapat berdampak negatif bagi satwa liar tersebut seperti terjadinya penularan penyakit. Dan dalam penelitian lebih lanjut oleh Dr. Erin Riley, adanya aktivitas pengunjung seperti pemberian makan mengakibatkan jelajah harian Macaca maura menjadi lebih luas dengan pola yang tidak biasa, hal ini bisa jadi disebabkan karena Macaca maura bergerak mengikuti pengendara yang ingin memberi makan sementara pengendara tersebut terus melaju di dalam kendaraan. Adanya akses terhadap makanan manusia dikhawatirkan berpengaruh negatif tidak hanya terhadap kesehatan kelompok tersebut, tetapi juga terhadap kemampuan bertahan hidup dan juga kemampuan untuk mempertahankan wilayah inti dan juga wilayah jelajahnya. Belum lagi akan adanya kemungkinan kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi.

Upaya edukasi dan kampanye terus dilakukan oleh tim Dr. Erin Riley bekerjasama dengan pihak Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk menghimbau pengendara agar tidak memberikan makanan kepada satwa liar yang berada di sekitar jalan.

#PrimateTalk perdana ini berjalan lancar dan dihadiri oleh para pemerhati muda dan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan di Bogor dan sekitarnya. Rencananya kegiatan Primate Talk ini akan diselenggarakan secara rutin setiap dua bulan sekali. Sampai jumpa di #PrimateTalk selanjutnya!

IMG_20180712_163040

Visit to Citalahab Station – Gunung Halimun Salak National Park

Written by: Makiko Uchikosi – Research Fellow, Primate Research Institute (PRI), Kyoto University – Japan

I visited Citalahab Research Station in Gunung Halimun Salak National Park, West Java, Indonesia from 5th to 9th March, 2018 for the purposes of the observation of Javan gibbons(Hylobates moloch); My experiences are strongly biased toward captive animals. I have been working mainly with agile gibbons (Hylobates agilis), white-handed gibbons (Hylobates lar), and siamangs (Symhalangus syndactylus). To broaden my views, I took this opportunity.

2
The misty mountain

Javan gibbon is endemic to Java, the southernmost area among all gibbon species’ distribution. Although Javan gibbons would have many characteristics in common with other species of Hylobates, they are different in singing behavior where adult pairs don’t do duet.

The Citalahab Research Station is located four hours west-southwest of Bogor by car. I stayed at a comfort house maintained by the research team. During my stay, Ms. Rahayu Oktaviani, Mr. Nunuy, Mr. Isra, and Mr. Iyan were working for monitoring gibbons. I was impressed by environment of the station. Many useful literature were lined with shelves of books. I like peoples’ attitude toward works where they have regular schedule, they keep daily records of weather and they keep all gears in good conditions. Pictures on the walls tell the heartwarming stories over ten years activity in Citalahab’ and the research team has Bu Amot – the amazing chef.

In 2007, Dr. Sanha Kim and his team members initiated the habituation and research on Javan gibbons living near Citalahab village. The team has been collecting behavioral and ecological data since then. Currently, they monitor and collecting data from three groups: A, B and S in rotation. Individual identification of gibbons and plant species identification were supported by Rahayu and Nunuy. Rahayu has detailed knowledge on plants. Her report on nutrition composition of gibbon diet is important not only for ecological study, but also for captive husbandry.

1
Heading to forest

On the first day I accompanied the research team; Rahayu, Nunuy, Sahri, Isra and Iyan. We observed Group B: Kumis (adult male), Keti (adult female), KimKim (adolescent, male, around 7year-old), Komeng (juvenile, male, around 4year-old) and Kendeng (infant, male, around 4 month-old). Kumis was big male, Komeng was very playful and his play partner was KimKim. Kendeng was clinging to Keti’s belly for most time but he also showed solitary locomotion for a short time. One time, I saw KimKim ate a stick insect! I haven’t heard any song on this day and due to rain, we returned to the station at 14:20.

3
Kety and Kendeng – clinging on mom’s belly

On the next day Sahri, Isra, and Iyan started to search gibbons early and followed by Rahayu, Nunuy, and I left the station for Cikaniki research station to report my visit and bought ticket to enter NP. I was lucky, at 7:15, we heard gibbon’s song and on the way to Cikaniki, we met members of group A: Aris (adult male), Amore (adolescent, male, 7year-old) and Awan (juvenile, male). After a while, Ayu, the adult female appeared. Ayu was feeding fruits of Ki Mokla. I heard now is fruiting season for Ki Mokla.

6
Cikaniki Research Station

Sahri, Isra and Iyan continued to follow the group A where we continue walked to Cikaniki. I met Mr. Yosi Irawan Syahriana and other rangers there. We heard great calls of gibbons at Cikaniki station and near from Curug macan – the waterfall, we spotted five gibbons including immatures.

On my last day of observation, we could observe the interactions between Group A and B. Two adult females exchanged songs. Young individual of Group B (KimKim?) sang together. Aris, the adult male of Group A was watching Kumis, the big adult male of Group B. after hours, they got separated and we followed Group A. I saw Ayu took time for feeding figs alone, longer than other individuals. Due to rain, we stopped observation at 15:30.

Unfortunately we found bullets, trash, burned plants, artificial hiding place, and other traces made by human in gibbons’ home ranges. Military recently started their practices in the park. I worry about their impacts on nature, villagers and tourism activity in this beautiful forest.

11
Bullets on forest floor

In summary I had great time in Citalahab. It is impressive that the team has been conducting a variety of educational activities based on their scientific findings. Many questions on Javan gibbons remain. Why Ayu, the adult female of Grup A preferred solitary, not following other group members? Where will subadults, KimKim and Amore, go? Which insect species are they feeding? What kind of differences between male and female in their song development?

 I look forward to any news from Citalahab 🙂