Petualangan di Jantung Halimun (Bagian 3)

Berbeda halnya dengan kelompok A yang cenderung santai, owa jawa dari kelompok B jauh lebih aktif dan harmonis. Kelompok ini terdiri dari Kumis (parent), Kety (parent), Kimkim (adult), Komeng (subadult), serta Kendeng (infant) yang memiliki home range terluas dan berbatasan dengan kelompok A maupun S. Mereka senang sekali menghabiskan waktu untuk makan di satu pohon yang sama, kemudian sang induk bersantai dengan melakukan allogrooming, sedangkan Kendeng sang bayi seringkali mengikuti langkah Komeng sang kakak ketika bermain. Keluarga ini lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk berpindah-pindah atau berpatroli bersama sambil sesekali singgah untuk makan. Mereka pun menjadi kelompok favoritku karena keluarga inilah yang peling gemar mengeluarkan nyanyian indahnya atau great calling. Lalu pada suatu hari pengamatan, Kumis dan Kety terlihat sedang kawin. Kami jadi tidak sabar menanti kehadiran adik baru Kendeng.

Pohon keluarga kelompok B dan S yang terpampang di dinding rumah owa

Kelompok terakhir yang juga paling misterius bagiku dan Osa adalah kelompok S. Kelompok yang terdiri dari Sahri (parent), Surti (parent), Sanha (adult), dan Setia (infant) ini memiliki home range dengan jarak terjauh dari Rumah Owa serta medan yang paling menantang. Pertama kalinya kami mengamati kelompok S, kami menjumpai Sahri, Surti, dan Setia berada pada pohon yang saling berdekatan. Namun, kala itu Setia sudah berani mengeksplorasi seorang diri di luar gendongan Surti sang Ibu. Selama 20 menit observasi, Surti berada di bagian pohon tertinggi tanpa banyak bergerak hingga akhirnya Kang Isra mengejutkan kami…

“Ada bayi! Ada bayi! Eta ada bayi baru digendong si Ibu!”

              Kami pun serentak mengamati kembali Surti dengan seksama menggunakan binokuler kami masing-masing. Ah benar, ada bayi berukuran kecil yang sudah mulai ditumbuhi rambut dalam gendongannya. Kata para asisten, sudah beberapa lama ini mereka tidak bisa menjumpai kelompok S karena faktor cuaca, dan kala itu Surti belum mempunyai bayi. Berdasarkan perubahan fisiknya, kami menduga bayi tersebut sudah berusia sekitar satu bulan.

Observasi dengan binokuler

Hari itu kami pun lekas memberi kabar pada Kak Toa sembari mendokumentasikan si bayi baru dengan kamera, kemudian kami memutuskan untuk pulang. Hal ini kami lakukan agar Surti tidak merasa takut bergerak bebas bersama bayi dalam gendongannya ketika kami amati. Setidaknya kami harus mengubah jadwal dan baru bisa mengamati kelompok S lagi setelah 1-2 minggu kedepan.

Bukan hanya disuguhi oleh berbagai kejutan. Perjalanan kami untuk bisa mengamati perilaku sehari-hari owa jawa juga memiliki berbagai tantangan. Kami tak selalu bisa berangkat tepat waktu karena cuaca yang seringkali hujan dan berkabut. Lalu jalur yang kami lewati penuh longsoran atau berupa tebing yang curam, melewati sungai berlumpur atau berarus deras, tak sekali dua kali kami terpeleset atau bahkan tersangkut rotan, serta mendapat “penumpang gelap” penghisap darah yaitu pacet. Namun, perjalanan mendaki gunung dan melewati lembah tersebut rasanya terbayar tuntas dengan rasa bangga karena bisa melihat owa jawa yang beraktivitas di alam bebas sebagaimana mestinya

Sejak pertama kali menginjakkan kaki dan menjatuhkan hati pada tempat ini, Halimun selalu saja menyuguhkanku dengan berbagai kejutan tak terlupakan, juga pengalaman berharga yang tak tergantikan. Namun, satu hal paling berharga yang membuatku nyaman berada disini adalah bagaimana tempat ini bisa membuatku merasa hidup kembali. Terima kasih Halimun!

Ini hanyalah secuil kisah dari banyaknya hal menarik yang kami rasakan selama Petualangan di Jantung Halimun. Masih ada cerita mengenai sosok ular naga, jamur nyala yang eksotis, pohon yang berdarah, tragedi jatuhnya drone, kolecer sang kebanggaan, begonia battle, petualang cilik pengisi akhir pekan, dan maaasih banyak lagi! Nantikan cerita selanjutnya atau kamu akan menyesal 😀

Petualangan di Jantung Halimun (Bagian 2)

Hari pertama pengamatan, kami disuguhkan oleh rintikan hujan. Akhirnya kami pun berdiskusi terlebih dahulu mengenai ethogram yang akan menjadi acuan kami ketika mengobservasi owa jawa. Perilaku utama yang dicatat yaitu makan (M), istirahat (I), berjalan (J), grooming (G), bermain (P), kawin (K), serta Buang Kotoran (BK). Adapun metode yang digunakan yaitu focal animal sampling untuk observasi induk dan anak dengan interval 30 menit, serta scan sampling untuk mengamati masing-masing individu dengan interval 5 menit.

              Setelah hujan reda siang harinya, kami berangkat untuk mengobservasi kelompok A yang terdiri dari Aris (parent), Ayu (parent), Amore (adult), Awan (sub adult), dan Ajaib (infant). Tim pengamat terdiri dari Aku, Osa, Kak Toa, serta empat orang asisten lapang yaitu Kang Nuy, Kang Isra, Kang Sahri, dan Kang Nandar. Kami berpencar melalui empat jalur untuk mencari kelompok A yang memiliki home range terdekat dengan medan yang paling bersahabat. Masing-masing asisten membawa handie talkie (HT) untuk memberi kabar satu sama lain di setiap tempat yang mereka anggap strategis sebagai pohon singgah bagi owa jawa.

              “Kimoklaaa… kimokla yang seberang sungai tempat dulu Ibu grooming, kosong.. kosong sepi.” ujar salah satu asisten dengan nada yang khas melalui HT. Ya, para asisten memang sudah memiliki pengalaman selama bertahun-tahun dan menjadikan berbagai jenis pohon di sekitar mereka untuk menginformasikan kondisi terkini mengenai keberadaan kelompok owa yang kami cari. Siang harinya, kami pun berhasil menjumpai Aris sang induk jantan dari kelompok A.

Owa Jawa (Hylobates moloch)

Sang kera yang terancam punah tersebut bertubuh gempal dengan perut yang buncit. Seluruh tubuhnya selain wajah ditutupi oleh rambut keabuan, membuatnya terlihat seperti boneka yang bernyawa. Berayun penuh percaya diri dari ranting satu ke ranting lainnya, melakukan brachiasi dengan kedua lengannya yang panjang dan kuat.

Pada umumnya, owa jawa merupakan primata arboreal yang hidup dalam kelompok kecil terdiri dari Ayah, Ibu, serta anak-anaknya yang masih bayi (infant) hingga remaja (subadult). Sedangkan anak yang sudah berusia lebih dari tiga tahun dan dewasa (adult) akan memasuki fase disperse, yaitu menjauh dari home range kedua induknya dan hidup mandiri menjadi floater untuk mendapatkan pasangan hingga membentuk keluarga baru. Oleh karena itu, ketika salah satu dari tim kami menjumpai satu atau dua individu, kami cukup menunggu sembari mengamati pohon di sekitar hingga anggota keluarga lain dari kelompok owa tersebut bermunculan. Benar saja, tak lama kemudian sang Ibu pun datang dengan ciri khasnya yaitu payudara dengan puting yang membesar. Ah tapi… si Ajaib hilang!

Ayu datang seorang diri tanpa ada bayi Ajaib dalam gendongannya, di belakangnya pun tak ada tanda-tanda kehadiran sang bayi. Seharusnya Ajaib yang baru memasuki usia 2 tahun 3 bulan masih dalam gendongan Ibunya atau baru bisa mengeksplorasi mandiri di sekitar sang Ibu. Kami curiga jika Ajaib hilang karena terjatuh ataupun dimangsa oleh predator. Pun ini bukan kali pertama Ayu kehilangan. Berdasarkan cerita dari Kak Toa, Ayu pernah kehilangan anaknya yang juga masih bayi. Kejadian tersebut ditandai dengan adanya calling dari owa jawa pada malam hari hingga terdengar jelas ke pemukiman warga. Padahal secara alamiah, calling hanya dilakukan pada jam aktif owa yang diurnal, yaitu pagi hingga sore hari. Kemudian bayi owa tersebut tak pernah terlihat lagi saat pengamatan, hingga detik ini.

Siang itu, kami juga sekilas mendengar Ayu mengeluarkan calling singkat sebagai indikasi owa yang khawatir dan juga stress. Calling yang pendek berulang dengan intensitas suara kecil, seperti suara nafas kita saat ngos-ngosan setelah lari marathon. Namun, hari itu kami dikejutkan oleh Ayu dan Aris yang kawin secara tiba-tiba. Kak Toa dan para asisten pun menjelaskan bahwa perilaku kawin tersebut bisa saja mereka lakukan untuk mengatasi rasa kehilangan terhadap Ajaib dengan menghadirkan anak yang baru.

              Selain Aris dan Ayu, kami juga menjumpai Awan. Bisa dibilang, Awan sudah menjadi anak yang cukup pemberani karena Ia lebih memilih berpencar dari Ayah dan Ibunya ketika sedang mencari pakan, meskipun masih dalam jangkauan pandangan yang sama. Sekalipun Aris dan Awan adalah sesama jantan, namun keduanya dapat dibedakan berdasarkan ukuran tubuhnya. Sang induk tentu saja lebih besar dari anaknya.

              Entah sial atau beruntung, hari itu aku mendapat kejutan lain oleh kelompok A ketika sedang asik-asiknya duduk mengamati mereka tepat di bawah pohon. Lalu…. pluk! Aku melihat adanya benda terjatuh dari atas disertai suara dan bau masam yang langsung menguar. Ternyata ada “rejeki nemplok” berupa feses sang owa di sepatu boots dan pergelangan tangan kiriku. Seluruh tim pun menertawakanku dahulu sebelum menyodorkan air dan tisu untukku membersihkan diri. Baiklah, anggap saja ini sambutan dari para owa untukku disini hahahaha.

Rezeki nomplok

Oh ya, observasi harian owa jawa ini kami lakukan setiap Senin-Jumat mulai pukul 06.30 hingga sang owa jawa tertidur di sore hari. Dengan demikian, kami bisa mengetahui pohon yang mereka gunakan untuk tidur atau sleepsite. Maka keesokan harinya, kami harus berangkat lebih pagi lagi agar bisa mengamati owa jawa sejak mereka baru membuka mata di pohon tidurnya.

              Secara keseluruhan, kelompok A lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk istirahat dan makan. Pakannya pun bervariasi seperti buah, daun, bunga, dan juga serangga. Mulai dari ficus, maja, kokosan monyet, asam kandis, lolo, hamerang, hamirung, harendang, bambu, culak ketan, pongrang, polyalthia, dan masih banyak lagi. Pakan yang bervariasi tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan harian owa jawa. Berdasarkan studi oleh Kak Toa dan rekan-rekannya, kandungan karbohidrat tertinggi dari pakan owa jawa terdapat di bunga dan buah matang, lemak kasar (crude fat) terbanyak pada buah mentah, serta serat kasar (crude fiber) ada pada bunga, daun, dan buah. Adapun kandungan air, abu (ash), serta protein kasar (crude protein) tertinggi terdapat pada daun muda. Hal tersebut juga bisa menjadi salah satu alasan mengapa owa jawa lebih menyukai daun muda ketimbang daun tua yang sudah berwarna hijau pekat.

Buah ficus besar, salah satu pakan alami Owa jawa

Petualangan di Jantung Halimun (Bagian 1)

Ditulis oleh: Afifah Hasna

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan hutan pertama yang membuatku jatuh hati pada alam bebas beberapa tahun silam. Lalu kali ini, menghabiskan waktu selama satu bulan di Halimun bukan hanya membuatku semakin terhanyut, tetapi juga merasa hidup kembali.

Keberadaanku disini yaitu dalam rangka Magang Profesi Pilihan (Mapropil) yang diselenggarakan oleh Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (PPDH FKH IPB) atau yang lebih familiar dengan istilah koas. Kegiatan ini merupakan magang penutup di akhir masa studi kami sebagai calon Dokter Hewan yang ditempuh selama 3 semester. Kami pun bebas memilih tempat sesuai jenis hewan yang kami minati. Sebagai seseorang yang memiliki antusias tinggi terhadap konservasi satwa liar, aku (Apip) dan rekanku Auzan (Osa) pun memutuskan untuk melaksanakan mapropil kami di Javan Gibbon Research and Conservation Project (JGRCP) dan mapropil kami juga didukung oleh Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (Yayasan KIARA).

Lokasi basecamp JGRCP atau “Rumah Owa” yaitu di jantung kawasan TNGHS, tepatnya di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kampung ini dikelilingi oleh perkebunan the nirmala dan sehari-harinya diselimuti oleh kabut. Jelas saja, kata “Halimun” itu sendiri dalam bahasa Sunda berarti berkabut atau berawan. Di pemukiman bernuansa hutan hujan tropis inilah kami akan menetap hingga 8 Maret 2021 mendatang.

Pemandangan Citalahab Sentral dari bukit kebun teh (kiri-kanan: Osa, aku dan Kak Toa)

Kegiatan kami memiliki fokus utama terhadap observasi perilaku harian owa jawa (Hylobates moloch) yang terdiri dari kelompok A, B, dan S dengan wilayah jelajah (home range) berbeda. Selain itu, kami juga akan melakukan kegiatan tambahan berupa inventarisasi keanekaragaman herpetofauna di kawasan TNGHS serta pendidikan konservasi kepada anak-anak di Kampung Citalahab Central setiap akhir pekan.

Kunjungan kami ke tempat ini memang bukan yang pertama kalinya, namun hal tersebut tidak menyurutkan antusias kami. Bersama dengan Kak Toa yang merupakan ketua Yayasan KIARA sekaligus manajer program JGRCP, kami berangkat membawa seluruh persediaan pakaian, makanan, uang, hingga buku dan logistik lapang untuk kebutuhan selama satu bulan kedepan. Maklum, jarak dari Citalahab Central ke minimarket atau ATM terdekat harus ditempuh selama 1 hingga 1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor melewati jalan bebatuan. Sedangkan lokasi pengamatan owa jawa dengan home range terdekat hanya berjarak sekitar 100 meter di belakang Rumah Owa. Ya, Kampung Citalahab Central memang berada di zona rimba dari TNGHS.

Di hari pertama kedatangan, kami disambut oleh salah satu asisten peneliti dari JGRCP yaitu Kang Nuy. Selain itu, ada juga Kak Ahmad dan Trisna yang merupakan mahasiswa S2 Fakultas Kehutanan IPB dan sedang melakukan penelitian di TNGHS menggunakan drone serta camera trap. Mereka lah yang akan menemani keseharian kami di Rumah Owa. Adapun satu orang lainnya yang akan sering kami jumpai adalah Bu Amot yang merupakan juru masak di Rumah Owa.

Eksperimen menggunakan light trap

Malam hari itu, kami langsung membuat eksperimen kecil di teras rumah untuk mengamati serangga malam menggunakan light trap. Bentangan kain putih yang disinari oleh cahaya terang pada bagian pusatnya itu mengundang berbagai makhluk kecil penghuni Halimun ke hadapan kami. Ada yang berwarna putih, coklat, oranye, juga hijau. Dari yang hampir tak kasat mata hingga yang berukuran sepanjang jari telunjuk. Beragam serangga yang hadir membuat kami semakin tak sabar untuk melihat keanekaragaman satwa lainnya di hutan yang disebut-sebut sebagai “Surga Fauna di Tanah Jawa” ini.

Menginjakkan Kaki di Kampung Citalahab

Menerbangkan Drone thermal di hutan hujan tropis adalah tantangan!

Saya Ahmad, mahasiswa pascasarjana semester 4 jurusan konservasi biodiversitas tropika di IPB university. Pada kesempatan kali ini saya melakukan penelitian mengenai efektifitas penggunaan Unmanned Aerial vehicle (pesawat tanpa awak) atau yang lebih dikenal sebagai drone dengan kamera thermal untuk pemantauan satwa liar di resort cikaniki dan desa citalahab.

Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu dimana itu cikaniki maupun citalahab, yang saya tahu bahwa tempat tersebut merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), sampai akhirnya saya pun menuju ke daerah tersebut untuk melsayakan penelitian. Perjalanan saya menuju citalahab dimulai dari balai TNGHS. Perjalanan dari balai memakan waktu sekitar 90 menit. Di perjalanan saya sedikit terkejut dengan kondisi jalan, meski kondisi jalan yang rusak dan bebatuan merupakan kondisi yang lumrah di beberapa taman nasional yang pernah saya kunjungi tetapi akses jalan menuju citalahab merupakan salah satu yang menantang. Tetapi hal itu seakan tidak terasa dikarenakan pemandangan dan suasana rimbunnya hutan yang menenangkan. Sesampainya di citalahab saya disuguhkan dengan bentangan kebun teh yang sangat luas, menurut informasi yang saya dapatkan luasnya mencapai 900 ha, sungguh luas sekali!!!

Ketakjuban saya tidak hanya sampai disitu saja, dinginnya air dan udara, keindahan bentang alamnya dan ramahnya para penduduk desa, ya mereka sangat ramah!!. Sesampainya di citalahab saya bertemu dengan pak odi yang merupakan polisi hutan dan pak ade, seorang penggiat ekowisata dan pemandu kami selama penelitian nantinya. Selama penelitian disana, kami tinggal bersama tim JGRCP di rumah owa, dan terimakasih buat mba ayu yang sudah mengizinkan kami tinggal selama penelitian berlangsungJ. Pada minggu pertama penelitian kami menjadwalkan untuk pemasangan kamera jebak untuk pemantauan macan tutul yang ada disana. Pemasangan kamera mengikuti rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya. Walau cuaca sukar ditebak tetapi pemasangan kamera jebak berlangsung dengan lancar.

“Baaang tunggu, baaang capek!!”, begitulah suara temanku yang sering terdengar selama pemasangan kamera jebak, ya temanku yang bernama trisna memang kerap tertinggal dan terjatuh saat menuju lokasi pemasangan kamera. Medan perbukitan dan jalan yang licin karena hujan menambah tantangan dalam memasang kamera. Tetapi dengan semangat yang ada akhirnya pemasangan kamera di citalahab pun selesai, jumlah kamera yang dipasang sebanyak 12 buah. Akhir pecan di minggu pertama kami memutuskan untuk istirahat dan menikmati suasana citalahab yang menenangkan. Pada akhir pekan ternyata banyak pengunjung yang berkunjung ke citalahab untuk berwisata, hal ini tentu saja menjadi pemandangan yang menarik. Dengan adanya pengunjung kami bisa mendapatkan teman baru dan saling bertukar cerita.

Di rumah owa saya mendapatkan banyak kenalan baru, ada kang nuy, kang isra, kang sahri, dan nandar. Mereka merupakan tim dari owa halimun yang bertugas mengamati perilsaya owa jawa setiap harinya. Ada tiga kelompok owa jawa yang mereka amati, kelompok A,B dan S yang telah terhabituasi. Untuk kang nuy dan kang sahri, mereka berdua sudah mengamati perilaku owa sejak tahun 2007, ya sudah 13 tahun lamanya. Dedikasi mereka sangat kukagumi, setiap hari mereka memasuki hutan untuk mengamati owa, sudah tak terhitung banyaknya peneliti yang mereka temani untuk penelitian disana. Keramahan, keuletan, dedikasi dan kesederhanaan adalah sifat yang saya pelajari dari mereka.

Kesadaran penduduk desa mengenai pentingnya lestari satwa liar seperti owa jawa, surili dan lutung sudah tinggi. Mereka bersama polisi hutan TNGHS, dan teman-teman di rumah owa saling bahu membahu untuk mengenalkan dan melestarikan satwa satwa yang ada disana. Saya percaya dengan keberadaan mereka satwa liar disana akan tetap lestari.

Oh iya ada satu lagi hal yang menarik yang saya temui disana yaitu kolecer, mungkin tidak banyak yang mengetahui apa itu kolecer :D. kolecer merupakan kincir angin dengan baling-baling terbuat dari bambu maupun kayu. Ukuran baling-balingnya mulai dari satu meter sampai belasan meter meter looo, sungguh menakjubkan melihat dari dekat. Ketika pergantian musim biasanya akan banyak angin berhembus di daerah sana, inilah waktu yang sangat tepat untuk memasang kolecer di atas bukit. Dari muda sampai tua, semua orang disana sangat menyukai kolecer, mereka berbondong-bondong untuk memasangnya di atas bukit, apabila ada kerusakan pun mereka akan segera memperbaikinya.

 Sungguh sangat senang melihat penduduk yang ramah, alam yang indah, budaya yang unik dan suasana yang tentram, membuat rasa ingin kembali lagi kesana. Mungkin esok atau nanti, tapi yang jelas rasa ingin kembali kesana selalu ada.

Berbagi cerita tentang virus corona

Pandemi ini masih belum reda dan penting sekali untuk terus menyebarkan informasi agar semua lapisan masyarakat dapat mengetahui apa itu virus corona dan bagaimana upaya untuk menghentikan penyebarannya. Anak-anak termasuk kelompok yang rentan terinfeksi oleh virus ini, oleh karena itu penting sekali agar anak-anak dapat menjaga kebersihan diri.

Kali ini kami berbagi dengan anak-anak yang berada di sekitar areal kami berkegiatan di kampung Citalahab Sentral mengenai virus corona lewat dua buku cerita yang ditulis oleh Watiek Ideo. Buku cerita pertama menceritakan tentang bagaimana virus corona dapat menyebar dan menyebabkan sakit pada semua orang, dan buku kedua menceritakan mengenai upaya pencegahan dan menjaga kebersihan melalui cuci tangan secara teratur. Melalui buku cerita, anak-anak dapat lebih terhubung dengan kondisi pandemi yang terjadi saat ini. Mari jaga diri dan juga sekitar!

————————————————————-

Pandemic is not over yet and it is necessary to keep spreading information to the public, therefore everyone can be well aware about the coronavirus and how we can stop the virus transmission. Children is a vulnerable group that can be infected by this virus, so it is necessary to raise their awareness and how they can keep good habit like washing their hands regularly.

This time, we share the information to the children around our project area about corona virus through two storybooks, the first one is about how the coronavirus can infects all people and make them sick; the second one is the importance to keep health, wash hand and have a good sanitation. Through storybooks, the children can be more connected with the current situation. Let’s protect ourselves and also our neighbor’s!

Eps. 3 Podcast Suara Primata Indonesia

Nuy, Sahri, Isra dan Nandar adalah empat orang asisten lapangan OwaHalimun yang banyak membantu para peneliti dan mahasiwa tidak hanya sekedar mengumpulkan data, tetapi mereka adalah para penjaga di garis depan yang membantu untuk memastikan habitat owa Jawa tetap terjaga dan kegiatan konservasi yang kami lakukan dapat berjalan dengan baik.

Dengarkan perbincangan spesial di eps. Ketiga Suara Primata Indonesia mengenai pengalaman empat sekawan ini selama di lapangan, arti hutan dan owa Jawa bagi mereka, dan besarnya arti keberadaan mereka di dalam sebuah organisasi. Selamat mendengarkan.

Eagle Web Series: Sang Pesinden Hutan

Halo Kawan Owa, kami kembali hadir di dalam Eagle Webseries terbaru dari Eagle Awards yang menceritakan tentang Owa Jawa dan juga cuplikan aktivitas kami di lapangan. Tonton video lengkapnya di channel Youtube Eagle Awards ya: EAGLE WEB SERIES: SANG PESINDEN HUTAN

Pemenang Lomba Desain Poster

Halo Kawan Owa!

Peringatan Hari Owa Sedunia yang sejak lima tahun lalu diselenggarakan tiap tanggal 24 Oktober, tahun ini kami peringati dengan cara yang berbeda. Pandemi membuat rencana awal untuk mengadakan kampanye edukasi bagi keluarga yang sebelumnya rutin kami selenggarakan di Taman Ekspresi, Lapangan Sempur Bogor harus ditidakan. Sebagai gantinya, unutk menjamin keselamatan selama masa pandemi ini, kami menyelenggarakan kompetisi desain poster secara daring pada tanggal 12-21 Oktober kemarin dan diumumkan tepat pada tanggal 24 Oktober bertepatan dengan peringatan hari owa sedunia.

Tujuan dari kompetisi adalah untuk menyebarluaskan informasi tentang keberadaan owa Indonesia sebagai satwa asli Indonesia agar tidak terlupakan oleh publik, khususnya generasi muda. Dalam kurun waktu 10 hari, kami tidak menyangka akan menerima 99 karya luar biasa! Setelah proses penjurian, terpilihlah 8 orang pemenang yang terbagi menjadi Juara 1, Juara 2, Juara 3, Juara Favorit dan 4 Pemenang Hiburan.

Semoga semakin banyak generasi muda yang mengetahui tentang keberadaan Owa Indonesia dan mengambil bagian untuk lebih peduli dan menjaga habitatnya. Mari kenali owa, jaga habitatnya! Selamat kepada para pemenang!

Peringatan Hari Owa Internasional lewat Lomba Desain Poster

Halo kawan owa!

Dalam rangka memeriahkan International Gibbon Day 2020 pada tanggal 24 Oktober, Owahalimun bersama Gibbonesia akan mengadakan Lomba Desain Poster dengan tema “Kenali Owa, Jaga Habitatnya”

Lomba ini terbuka untuk umum (usia 17-35 tahun) dengan mendesain sebuah poster yang orisinil dan belum pernah dipublikasikan. Berikut adalah tata caranya:

1. Desain poster dengan tema “Kenali Owa, Jaga Habitatnya!”.

2. Kalian bisa mendesain menggunakan aplikasi apapun pada ukuran A3 serta hasil akhir dalam format .png.

3.  Kirimkan karya terbaikmu beserta deskripsi mengenai desain melalui email:halimunjavangibbon@gmail.com dengan subjek IGD – (Nama Lengkap).

4. Unggah juga desain terbaikmu di feed Instagram, tag & mention @owahalimun dan @gibbonesia dengan hashtag #InternationalGibbonDay #OwaIndonesia.

5. Ajak teman-temanmu untuk likes hasil karyamu karena akan ada hadiah menarik juga untuk desain favorit dengan likes terbanyak.

Bagi pemenang, akan mendapatkan hadiah sebagai berikut:

Juara 1: Rp 350.000 + merchandise

Juara 2: Rp 250.000 + merchandise

Juara 3: Rp 150.000 + merchandise

Sementara, untuk desain poster akan dinilai sesuai dengan kriteria berikut yang telah ditentukan oleh panitia dan Juri:

– Orisinalitas karya

– Kesesuaian konsep desain dengan tema

– Kreativitas

– Kualitas artistik penyajian visual

– Filosofi deskripsi

Berikut adalah timelinenya:

Pengumpulan karya: 12-21 Oktober 2020

Penilaian: 22-23 Oktober 2020

Pengumuman pemenang: 24 Oktober 2020 (bertepatan dengan peringatan Hari Owa Internasional).

Pemenang lomba akan kami umumkan melalui email dan juga lewat Instagram @owahalimun. Keputusan akhir dari panitia dan juri tidak dapat diganggu gugat. Karya yang terpilih akan kami gunakan sebagai media edukasi non-komersial.

Kami tunggu keikutsertaan dan karya-karya dari teman-teman semua untuk menggaungkan suara Owa Indonesia!

Podcast: Suara Primata Indonesia

Sebagai bagian dari rangkaian A Better World Festival yang diadakan oleh @campaign_id, dan juga upaya untuk menyebarluaskan serta mengarusutamakan konservasi primata Indonesia yang dilakukan oleh para peneliti, penggiat dan juga pemerhati, kami meluncurkan podcast kami dengan nama: Suara Primata Indonesia pada tanggal 26 September 2020 lalu.

Pada podcast perdana ini, kami mengundang Agung dari @kukangku , Afrizal dari @gibbonesia , dan drh Pristi dari @javangibboncenter untuk berbagi mengenai upaya pelestarian primata melalui kampanye edukasi, dan juga upaya rehabilitasi owa jawa eks-peliharaan.

Semoga podcast ini dapat menjadi kendaraan bagi kami untuk semakin memperkenalkan dan memperluas upaya konservasi bagi primata Indonesia. Temukan tautannya di bawah ini. Selamat mendengarkan dan Salam lestari!